Tulisan kali ini tanggapan atas tulisan Yodhia Antariksa diblognya:
Saya tidak akan mengcopas tulisan semuanya hanya yang menurut saya perlu dikritisi, bila pembaca menginginkan tulisan selengkapnya silahkan buka linknya di atas.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dari-Nya, dan memohon ampunan kepada-Nya. Saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu baginya dan saya juga bersaksi bahwa Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam adalah hamba dan Rasul-Nya. Shalawat dan salam yang berlimpah atas beliau dan atas seluruh pengikut beliau. Amma ba’du:
Saya baru membaca tulisan anda yang berjudul “Are You Happy with Your Life (and your job) Now? Posted April 14, 2008, kebetulan seorang teman posting melalui milis.
Saya sudah sering mengikuti beraneka macam seminar MOTIVASI dari mentor-mentor tingkat nasional seperti Andri Wongso, Mario Teguh, papa Edy dan setingkat dibawahnya seperti Harun Al Rasyid tetapi baru kali ini saya membaca tulisan dalam rangka memotivasi seseorang telah merendahkan profesi lain yang dianggap tidak bersahaja (tidak bahagia). Kalaupun para mentor membandingkan suatu profesi biasanya adalah sebuah pekerjaan yang bukan panggilan jiwa tetapi profesi keterpaksaan karena tidak ada pilihan lain yang biasanya tertindas oleh berbagai kebijakan karena lemahnya posisi profesi tersebut, misalnya buruh tani, pembantu rumah tangga. Jadi yang direndahkan bukannya profesi itu sendiri tetapi ketertindasan mereka. Di bawah ini copas cuplikan tulisan anda pada waktu mengarahkan pembaca didepan monitor apakah anda membayangkan:
- Apakah yang tergambar dalam bayangan itu adalah figur Anda sebagai seorang saudagar sukses dengan omzet bisnis ratusan juta per bulan, dengan sebuah apartemen indah di Dharmawangsa Residence?
- Atau yang muncul adalah gambaran Anda sebagai seorang manajer sukses bergaji 30 juta perbulan, dengan sebuah SUV nongkrong di garasi rumah?
- Atau yang justru tergambar di layar adalah gambaran Anda sebagai seorang guru mengaji di sebuah surau kecil di kampung halaman Anda, nun jauh disana, di sebuah kampung dimana segenap ambisi materi dan duniawi menjadi lenyap, karena disitu yang ada hanyalah “keheningan, kedamaian dan keber-sahajaan”?
1. Apakah kalau orang yang berprofesi menjadi guru ngaji keheningan, kedamaian dan kebersahajaannya hanya kepura-puraan kok dalam kalimat tersebut di atas diberi tanda kutip. Sudah menjadi kelaziman dalam kaidah bahasa Indonesia salah satu fungsi tanda kutip adalah untuk membicarakan yang tidak sebenarnya. Dia “Jujur” (jujur dalam tanda kutip konotasinya adalah kebalikannya).
2. Perlu anda ketahui (saya yakin sudah tahu lha wong alumni UII kok) kebanyakan profesi guru ngaji itu adalah panggilan jiwa karena mempelajari agama Islam termasuk bahasa Arabnya adalah sangat sulit dan komplek apalagi disamping menguasai ilmunya tentu mereka dituntut untuk mengamalkannya. Jadi sangat naip kalau profesi guru ngaji adalah sebuah keterpaksaan yang keheningan, kedamaian dan kebersahajaannya dalam tanda kutip.
Apakah kebahagian seseorang ukurannya mutlak materi? Di atas langit ada langit berapapun penghasilan seseorang tidak akan pernah puas dan cukup, karena manusia adalah mahluk serakah dan mempunyai sifat tamak, karena Allah -Azza wa Jalla- telah mengecualikan orang-orang yang saleh dari sifat takut (kehilangan dunia) ini, dan Dia menjelaskan bahwa tamak merupakan sifat orang-orang yang tidak mempunyai wara’ dan agama yang kuat, sifatnya orang-orang kafir dan pelaku maksiat dari kaum muslimin, karenanya sifat tamak sungguh akan membuat diri seseorang mudah gelisah. Dalam Ash-Shahih dari hadits Ibnu Abbas Radialuhuanhu, bersabda: bahwa Nabi Sallallahu Alaihi Wasalam Bersabda:
لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادٍ مِنْ ذَهَبٍ, أَحَبَّ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ وَادِيَانِ. وَلَوْ كَانَ لَهُ وَدِايَانِ أَحَبَّ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ ثَالِثٌ. وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ وَيَتُوْبُ اللهُ عُلُى مُنْ تَابَ
“Seandainya anak Adam mempunyai satu lembah emas, niscaya dia akan senang kalau dia mempunyai dua lembah. Seandainya dia mempunyai dua lembah, niscaya dia akan senang kalau dia mempunyai (lembah) yang ketiga. Tidak akan ada yang bisa memenuhi mulutnya kecuali tanah, dan Allah menerima taubat dari orang yang mau bertaubat.”
3. Saya yakin anda juga paham betul Hadits ini “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya” HR Bukhari. Rasullullah Sallallahu Alaihi Wasalam yang mulia telah bersabda seperti di atas dan sudah pasti benar, lha kok sampean merendahkannya. Bagi kami keluarga guru menjadi guru ngaji dimanapun sama mulianya justru di kampung-kampung pedalaman keikhlasan benar-benar merasuki jiwa mereka. Jadi anda tidak usah repot-repot memakai tanda kutip pada kalimat Keheningan, kedamaian dan kebersahajaan karena itu yang sesungguhnya terjadi ya seperti itu.
4. Saya setiap Sabtu Ahad subuh ikut shalat dikomplek perumahan mewah para jamaah hampir semua orang yang sukses secara materi dan karir tetapi mereka dapat tertawa lepas ataupun menikmati hidup justru manakala mendengarkan ceramah guru ngaji bukan pada saat mengendarai mobil mewah atau melihat tongkrongan mobil tersebut. Kedamaian yang hakiki telah didapatkan dari sana .
Saya copas kembali tulisan anda:
Life is too short my friends, and you know what, setelah itu kita semua akan mati. Sebab itu, mungkin yang tersisa adalah sejumput kesia-sian jika sepanjang hidup, kita hanya melakoni pekerjaan yang full of bullshit. Dan bukan menekuni pekerjaan yang menjadi passion kita, tempat dimana kita bisa mereguk secangkir kebahagiaan sejati…… Tempat dimana kita selalu tak sabar menunggu hari esok tiba – karena setiap hari selalu dihiasi oleh “the beauty of meaningful work and life”. Jadi adakah hidup dan pekerjaan yang Anda lakoni sekarang sudah benar-benar menjadi passion Anda? Adakah Anda telah menemukan secercah embun kebahagiaan dalam segenap hidup dan pekerjaan Anda?
Pertanyaan yang anda ajukan pada alinea di atas jawabannya justru menjadi kontradiktif dengan pernyataan masalah bayangan mau menjadi apa 5 tahun kedepan. Saya sangat setuju hidup itu sangat singkat justru karena sangat singkat itulah maka mencari bekal berupa amal shalih menjadi keharusan bukan hanya bayangan materi semata. Jika seseorang menjadi guru ngaji sudah menemukan kebahagian hakiki dalam hidup dan pekerjaannya (Insya Allah dunia akhirat) lantas apanya yang salah?
Allah Ta'ala berfirman,
مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ
“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat maka akan Kami tambah keuntungan itu baginya, dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia maka akan Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia, dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat.” (Qs. Asy-Syura: 20)
لْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا. وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى
“Akan tetapi, kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Qs. Al-A’laa: 16--17)
مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ
“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat maka akan Kami tambah keuntungan itu baginya, dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia maka akan Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia, dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat.” (Qs. Asy-Syura: 20)
لْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا. وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى
“Akan tetapi, kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Qs. Al-A’laa: 16--17)
Dalam Islam sudah jelas hukumnya profesi adalah fardu kifayah, jadi dalam suatu Negara harus ada yang menjadi dokter, petani, satpam, guru (termasuk guru ngaji) tidak semuanya harus menjadi pengusaha sukses.
Demikian tanggapan dari saya, mohon jawabannya karena akan saya posting di blog saya. Terima kasih atas perhatian dan mohon maaf kalau ada kesalahan.
Waassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
Nyoto Pujoharsoyo
janganlah melihat keatas terus bisa kecemplung got
BalasHapus