Powered By Blogger

Jumat, 20 September 2013

Rizki, Tidak Mesti Berwujud Materi


Oleh: Ust. Agus Hendra

Di dalam Lisan al 'Arab, Ibnu al Manzhur rahimahullah menjelaskan, arrizqu, adalah sebuah kata yang sudah dimengerti maknanya, dan terdiridari dua macam. Pertama, yang bersifat zhahirah (nampak terlihat),semisal bahan makanan pokok. Kedua, yang bersifat bathinah bagi hati danjiwa, berbentuk pengetahuan dan ilmu-ilmu.[1]

Mengacu pada penjelasan Ibnu al Manzhur tersebut, maka hakikat rizkitidak hanya berwujud harta atau materi belaka seperti asumsi kebanyakanorang. Tetapi, yang dimaksud rizki adalah yang bersifat lebih umum dariitu. Semua kebaikan dan maslahat yang dinikmati seorang hamba terhitungsebagai rejeki. Hilangnya kepenatan pikiran, selamat dari kecelakaanlalu-lintas, atau bebas dari terjangkiti penyakit berat, semua inimerupakan contoh kongkret dari rizki. Bayangkan, apabilakejadian-kejadian itu menimpa pada diri kita, maka bisa dipastikan bisamenguras pundi-pundi uang yang kita miliki. Tidak jarang, tabunganmenjadi ludes untuk mendapatkan kesembuhan. Imam an Nawawi rahimahullahmengisyaratkan makna tersebut dalam kitab Syarh Shahih Muslim (16/141).

Anugerah rizki Allah Subhanahu wa Ta'ala meliputi setiap makhluk hidup.Limpahan karunia itu cerminan rahmat dan kemurahanNya. Porsi rizkimasing-masing manusia bahkan sudah ditentukan sejak dini, ketika manusiaitu masih berupa janin berusia 120 hari.

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dalam hadits yang panjang :

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ ......ثُمَّيُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِكَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ

"Sesungguhnya salah seorang dari kalian dihimpun penciptaannya di perutibunya … lantas diutuslah malaikat dan meniupkan ruh padanya. Dan iadiperintah untuk menuliskan empat ketetapan, (yaitu) menulis rizki,ajal, amalan dan apakah ia (nanti) celaka atau bahagia …". [2]

Kendatipun rizki telah ditetapkan semenjak manusia berada di perutibunya, tetapi Allah Subhanhu wa Ta'ala tidak menjelaskan secara detail.Tidak ada seorang manusia pun yang mengetahui pendapatan rizki yangakan ia peroleh pada setiap harinya, ataupun selama hidupnya. Ini semuamengandung hikmah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا

"Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diperolehnya besok". [Luqman/31 : 34]

SPIRIT DARI AL QUR`AN
Langit tidak akan pernah menurunkan hujan berlian atawa emas perak. Lautpun tidak mengirimkan kekayaan perutnya ke daratan, sehinggaorang-orang bisa beramai-ramai mengaisnya. Islam tidak menganjurkanpemeluknya untuk memerankan diri sebagai penganggur, meski dengan daliluntuk mengkonsentrasikan diri dalam beribadah kepada Allah Subhanahu waTa'ala. Jadi, usaha itu merupakan keharusan. Tidak ada kependetaan ataukerahiban dalam Islam. Seorang muslim tidak selayaknya senang bergantungkepada orang lain, menunggu belas kasih dari orang-orang yanglalu-lalang melewatinya.

Renungkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْفَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi;dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamuberuntung". [al Jumu’ah/62 : 10].

Al Qurthubi rahimahullah mengatakan: “Berpencarlah kalian di bumi untukberdagang, dan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kalian, serta untukmencari sebagian dari rizki Allah Subhanahu wa Ta'ala ”.[3]

Allah Subhanahu wa Ta'alal berfirman :

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ

"Dia-lah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah disegala penjurunya, dan makanlah sebagian dari rizkiNya". [al Mulk/67 :15].

Tentang ayat ini, Ibnu Katsir mengatakan : “Menyebarlah kemanapun kalianinginkan di penjuru-penjurunya, dan berkelilinglah di sudut-sudut,tepian dan wilayah-wilayahnya untuk menjalankan usaha dan perniagaan”.[4]

RIZKI HARUS HALAL
Al Qur`an dan Sunnah telah mendorong manusia agar mencari rizki yanghalal lagi thayyib. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ فَإِنَّنَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَعَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ

"Wahai manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, pakailah cara baikdalam mencari (rizki). Sesungguhnya seseorang tidak akan meninggalsampai ia sudah meraih seluruh (bagian) rizkinya, meskipun tertundadarinya. Bertakwalah kepada Allah dan lakukan cara yang baik dalammencari (rizki)".[5]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga mengingatkan manusia,hendaknya berhati-hati dari fitnah harta. Jangan meremehkan pentingnyarizki yang halal, dan harus selektif dalam menghimpun rizki. Sahabat AbuHurairah Radhiyallahu 'anhu meriwayatkan hadits marfu’ :

َ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ أَمِنَ الْحَلَالِ أَمْ مِنْ الْحَرَامِ

"Akan datang suatu masa pada manusia, seseorang tidak peduli terhadapapa yang digenggamnya, apakah dari halal atau dari yang haram".[6]

BERKAH ITU PENTING!
Berkah (atau barokah), berasal dari kata الْبُرُوك (al buruk). Maksudnya ialah الثُّبُوت (ats tsubut atau menetap).

Az Zajjaj mengartikan berkah, sebagaimana dikutip oleh al Qurthubi dalamtafsirnya, dengan limpahan pada setiap hal yang mengandung kebaikan.Kata itu pun dimaksudkan pula kepada makna pertambahan dengan tetapterpeliharanya dzat aslinya.

Namun perlu dingat, pengertian berkah ini tidak melulu identik denganlimpahan materi yang dimiliki, tetapi juga menyertai harta yang sedikit.Hal ini tercermin pada diri yang merasa berkecukupan untuk memenuhikebutuhan satu keluarga, meskipun income yang didapatkan masih tergolongjauh jika dianggap cukup.

Dalam hadits Hakim bin Hizam Radhiyallahu 'anhu di bawah ini, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya :

يَا حَكِيمُ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرٌ حُلْوٌ فَمَنْ أَخَذَهُبِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍلَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ

"Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini begitu hijau lagi manis. Makabarangsiapa yang mengambilnya dengan kesederhanaan jiwa, niscaya akandiberkahi. Dan barangsiapa mengambilnya dengan kemuliaan jiwa, niscayatidak diberkahi; layaknya orang yang makan, namun tidak pernah merasakenyang".[8]

Tentang hadits ini, al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan, bahwamayoritas manusia tidak memahami keberadaan berkah, kecuali pada hartayang semakin bertambah banyak. Maka beliau Shallallahu 'alaihi wa sallammenjelaskan dengan permisalan itu, bahwa berkah merupakan salah satumakhluk Allah, dan membawakan permisalan yang sudah akrab denganmanusia. [9]

Dari sini kita bisa mengetahui, bahwa cara-cara yang legal dalam mengaisrizki, tidak hanya mendatangkan rizki yang halal lagi thayyib, tetapijuga akan berpengaruh pada lahir insan-insan masa depan, yaitu anak-anakyang berjiwa suci lagi berkepribadian luhur, lantaran mendapatkanasupan gizi dari makanan halal. Selain itu, juga dapat menghadirkankarunia lain, yang tidak bisa terpantau oleh indera ataupun dihitungdengan materi. Itulah berkah.

TIGA PEMBAWA BERKAH PADA HARTA
Pertama : Syukur.
Kenikmatan yang didapatkan seseorang pada setiap datang, tidak terhitungjumlahnya, termasuk di antaranya harta benda. Kenikmatan ini menuntutseseorang untuk memanifestasikan syukur kepada al Khaliq yang telahmelimpahkan rizki. Rasa syukur dan terima kasih serta pujian kepadaAllah Azza wa Jalla atas nikmat itu, merupakan salah satu jalan untukmendapatkan berkah dan tambahan pada harta yang dimiliki.

Ibnul Qayyim berkata, "Allah menjadikan sikap bersyukur sebagai salahsatu sebab bertambahnya rizki, pemeliharaan dan penjagaan atas nikmatNya(pada orang yang bersyukur). (Demikian ini merupakan) tangga bagi orangbersyukur menuju Dzat yang disyukuri. Bahkan hal itu menempatkannyamenjadi yang disyukuri”. [10]

Syukur jangan dipahami secara sempit, atau hanya dengan lantunan kata"alhamdulillah" atau "wa asy syukru lillah". Syukur yang seperti initidaklah tepat, dan tidak pelak lagi, yang demikian itu merupakanpandangan yang terlalu dangkal. Syukur memiliki makna yang lebih jauhdan lebih luas dari sekedar ucapan tersebut. Segala perbuatan baik,seperti shalat, puasa, pengakuan kurang dalam menjalankan ketaatan,menghargai nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala , memperbincangkannya,menerima dengan ridha, walaupun sedikit, semuanya masuk dalam bentuksyukur. Dengan bersyukur, maka Allah akan menambahhkan karuniaNya kepadakita. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

"Jika engkau bersyukur, niscaya Kami benar-benar akan menambahimu". [Ibrahim : 7].

Al Qurthubi menjelaskan, artinya, jika engkau mensyukuri nikmatKu,niscaya Aku tambahkan kepada kalian dari kemurahanKu. Ayat ini merupakandalil yang tegas bahwa bersyukur menjadi factor yang akan menambahkenikmatan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. [11]

Kedua : Shadaqoh.
Tidak sedikit ayat dan hadits yang menjelaskan shadaqoh dan infakmerupakan salah satu penunjang yang dapat mendatangkan rizki dan meraihberkah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ

"Allah menghapuskan riba dan mengembangkan shadaqoh".[al Baqarah : 276].

Maksudnya, Allah Subhanahu wa Ta'ala akan meningkatkannya di dunia inidengan berkah dan memperbanyak pahalanya dengan melipatgandakannya diakhirat. [12]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada Asma` bintu Abi Bakar Radhiyallahu 'anha :

أَنْفِقِي وَلَا تُحْصِي فَيُحْصِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ

"Berinfaklah, janganlah engkau menahan diri, akibatnya Allah akan memutus (berkah) darimu". [13]

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,"Larangan dari menahan diriuntuk bersedekah lantaran takut habis (apa yang dimiliki), sikap inimerupakan faktor paling yang mempengaruhi terhentinya keberkahan. KarenaAllah membalas pahala infak tanpa ada batas hitungannya." [14]

As Sindi memaknai hadits di atas dengan mengatakan : "Janganlah engkaumenahan apa yang ada di tanganmu, akibatnya Allah akan mempersulitpintu-pintu rizki. Dalam hadits ini terkandung pengertian, bahwakedermawanan akan membuka pintu rizki, dan kikir adalah sebaliknya”.[15]

Al Mubarakfuri berkata, "Hadits ini menunjukkan, bahwa sedekahmeningkatkan harta dan menjadi salah satu penyebab keberkahan danpertambahannya; dan (menunjukkan pula), kalau orang yang bakhil, tidakbersedekah, (maka) Allah mempersulit dirinya dan menghambat keberkahanpada harta dan pertambahannya." [16]

Ketiga : Silaturahmi.
Usaha lain yang bisa mendukung bertambahnya rizki dan bisa mendatangkankeberkahan pada harta yang dimiliki, yaitu menyambung jalinansilaturahmi. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

"Barangsiapa ingin dilapangkan dalam rizkinya dan ditunda ajalnya, hendaknya ia menyambung tali silaturahmi".[17]

Hadits di atas menunjukkan manfaat menyambung tali silaturahmi, yaitudapat mendatangkan curahan kebaikan dari Allah berbentuk rizki,terhindar dari keburukan, dan diraihnya keberkahan.

Al Hafizh rahiamhullah berkata : “Para ulama mengatakan, yang dimaksuddilapangkan rizkinya adalah, adanya keberkahan padanya. Sebab menyambungtali silaturahmi adalah sedekah, dan sedekah mengembangkan harta,sehingga semakin bertambah dan bersih”.[18]

Wa billahit taufiq.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03//Tahun X/1427H/2006M. PenerbitYayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 SelokatonGondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Lisanu al ‘Arab, 10/1115.
[2]. HR Muslim, kitab al Qadr, bab Kaifa al Khalqu al Adami fi Bathni Ummi wa Kitabati Rizqihi, 4/ 2037-2038.
[3]. Al Jami’ li Ahkami al Qur`an (18/105).
[4]. Tafsir al Qur`ani al ‘Azhim (4/105), dengan ringkasan.
[5]. HR Ibnu Majah, kitab at Tijarat, bab al Iqtishad fi Thalabi al Ma’isyah (2/724), dan dishahihkan oleh al Albani.
[6]. HR al Bukhari, kitab al Buyu’, bab Man Lam Yubali min Haitsu Kasaba al Mal (4/296).
[7]. Al Jami’u Li Ahkami al Qur`an : 13/1 pada tafsir ayat pertama surat al Furqan.
[8]. HR al Bukhari, kitab az Zakat, bab al Isti’faf ‘an al Mas`alah(3/3350); Muslim, kitab az Zakat, bab Takhawwufi ma Yakhruju min Zahratiad Dunya (2/727-729).
[9]. Fat-hul Bari (3/337)).
[10]. Madarijus Salikin (2/252) secara ringkas.
[11]. Al Jami’u li Ahkami al Qur`an (9/353).
[12]. Al Jami’u li Ahkami al Qur`an (14/41).
[13]. HR al Bukhari (3/299-300, 3/301, 5/217), Muslim (2/713), Abu Dawud (2/134), at Tirmidzi (6/94), an Nasaa-i (5/74).
[14]. Fat-hul Bari (3/301).
[15]. Hasyiyah as Sindi ‘ala Sunan an Nasaa-i (5/74-75)
[16]. Tuhfatul Ahwadi (6/94).
[17]. HR al Bukhari (4/301), (10/415).
[18]. Fathul Bari (4/303). 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar